Meghan Kelly: Desainer Harus Memahami Budaya Khalayak dalam Membuat Desain Komunikasi Visual

Meghan Kelly, Koordinator Desain Komunikasi Visual dari Deakin University Australia telah memberikan kuliah umum untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI dan umum pada 10 dan 12 Oktober 2011 di ruang Soelaman Soemardi, gedung C FISIP UI. Selain itu, Meghan juga memberikan kuliah khusus dan konsultasi bagi mahasiswa Kelas Khusus Internasional (KKI) Ilmu Komunikasi yang akan berangkat ke Deakin University tahun depan.

Pada kuliah umum pertama (10 Oktober 2011) dengan topik Cross-Cultural Visual Commnucation, Meghan membahas masalah lintas budaya dalam komunikasi visual, khususnya difokuskan kepada kasus place branding. Place branding adalah merek suatu tempat, wilayah atau negara. Dia membahas komunikasi visual lintas budaya dalam memahami place branding. Dengan bertanya kepada peserta kuliah, Meghan mencontohkan bagaimana mahasiswa Komunikasi UI mengetahui place branding Australia, yaitu kanguru, koala, dan Opera House.

DSC_0684-1024x685Selanjutnya Meghan memaparkan, dalam mengkomunikasi pesan, sulit membuat desain untuk khalayak negara lain, karena adanya perbedaan budaya antara khalayak dengan pengirim pesan dalam hal ini desainernya. Untuk itu dibutuhkan pemahaman lintas budaya dalam membuat desain komunikasi visual.

Menurut dosen desain grafis pada School of Communication & Creative Arts ini, desainer komunikasi visual sekarang, menurut dosen yang baru saja menyelesaikan program doktoralnya di Monash University ini, perlu memahami khalayak, kebutuhan mereka, nilai-nilai mereka dan metode komunikasi mereka yang unik. Desainer tidak lagi hanya mengandalkan metode komunikasi massa untuk semua masalah komunikasi visual yang mereka hadapi. Sebaliknya desainer harus mempertimbangkan pihak penerima dan menggunakan perbedaan dan keragaman khalayak untuk memperkaya pesan yang disampaikan.

Ada pergeseran dalam teori desain kontemporer yang mengakui pentingnya mengubah fokus proses komunikasi dari bagian pengirim pesan ke resepsi atau penerimaan.

Sementara itu pada kuliah umum kedua (12 Oktober 2011), Meghan membahas Creative Thinking khususnya dalam desain grafis. Creative thinking itu adalah sebuah proses dan setiap orang dapat berfikir secara kreatif. Pemikiran kreatif dibutuhkan saat desainer menyampaikan solusi visual kepada kliennya. Namun untuk sampai kepada munculnya pemikiran kreatif itu ada rangkaian proses sebelumnya yang sangat penting yaitu riset. Kegiatan riset diperlukan untuk memahami masalah klien. Banyak tahapan yang harus dilalui untuk melahirkan pemikiran kreatif.Adayang menyebutkan empat, lima atau enam langkah dalam menjalani proses tersebut, tergantung ahli mana yang mau diikuti.

DSC_0688-1024x685

Meghan dalam membahas kuliah ini hanya memberikan sebuah contoh tentang pena yang dapat dieksplorasi idenya. Tapi dari contoh yang sederhana ini dapat dilahirkan banyak ide kreatif tentang pena dalam eksekusi periklanan. Selain itu dia juga memperlihatkan beberapa iklan cetak yang menampilkan ide-ide kreatif.

Kuliah umum Meghan Kelly tidak hanya diikuti oleh mahasiswa KKI, tetapi juga banyak mahasiswa S1 Reguler yang hadir. Juga ada beberapa peserta umum baik dosen maupun mahasiswa di luar sivitas akademika Departemen Ilmu Komunikasi. Mereka tampak antusias mengikuti kuliah tersebut. Hal itu terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan kepada Meghan Kelly.